Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Juli 2016
Survei: Perlahan Popularitas Sandiaga Uno Dekati Ahok
21.51
Survei: Perlahan Popularitas Sandiaga Uno Dekati Ahok
Berita Islam 24H - Tim pemenangan bakal calon gubernur DKI Sandiaga Uno bersyukur karena berbagai hasil survei independen memperlihatkan hasil yang menggembirakan, bahkan Sandiaga mampu mengejar popularitas Ahok.
"Hampir semua survei memperlihatkan hasil yang baik dan Sandi Uno menempati posisi kedua setelah pertahana, Gubernur Basuki T Purnama (Ahok). Kami bersyukur," kata penanggung jawab tim pemenangan Sandiaga Uno, Panji Gunardi didampingi Sandiaga Uno Media Center, Budi Purnomo Karjodihardjo di Jakarta, Jumat (1/7/2016).
Survei terbaru dari lembaga Indonesia Lima juga menempatkan nama Sandi Uno sebagai salah satu nama yang mendominasi kandidat calon gubernur Jakarta. Urut-urutannya adalah Ahok (53 persen), Sandi Uno (22 persen), Yusril Izha Mahendra (15 persen) dan DJarot Saiful Hidayat (5 persen).
"Tren popularitas dan elektabilitas Sandi Uno dari waktu ke waktu juga meningkat secara signifikan. Bahkan melampau perkiraan kami," kata Panji.
Menurut Panji, dalam perjalanan "blusukan" dan menyapa warga serta mendengarkan curhat warga selama tiga bulan lebih, ternyata banyak yang menaruh harapan kepada Sandi Uno untuk membawa perubahan yang lebih baik.
"Umumnya warga berharap Sandi Uno bisa menjaga stabilitas harga bahan pokok. Selain itu juga bisa mengatasi solusi pengangguran dan menekan tingkat kriminalitas," kata Panji.
Sebelumnya lembaga survey SPIN (Survey&Polling Indonesia) juga menempatkan Sandi di posisi yang baik setelah Gubernur Basuki, dengan urutan Basuki (34,1 persen), Sandiaga Uno (15,2), Yusril Ihza Mahendra (14,7), Adhyaksa Dault (11,2), Abraham Lunggana (10,7), Sjafrie Sjamseoddin (9,5) dan Husnaeni Moein (4,6 persen).
Demikian juga dengan hasil survei beberapa lembaga. [beritaislam24h.com / tsc]
Kamis, 30 Juni 2016
Bosan dengan Ahok, Warga Jakarta Barat Dukung Risma Jadi Cagub DKI
03.20
Bosan dengan Ahok, Warga Jakarta Barat Dukung Risma Jadi Cagub DKI
Berita Islam 24H - Kelompok masyarakat yang tergabung dalam Siap Mendukung Risma (SIMETRIS) mendeklasikan diri mendukung Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) untuk maju melawan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI 2017.
Pendukung Risma ini berasal dari Kalianyar Tambora Jakarta Barat. Mereka yakin Risma akan menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017 - 2022 untuk mewujudkan Jakarta Baru yang dicita-citakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Koordinator Simetris Parjono menegaskan pihaknya telah bosan dengan tontonan arogansi kekuasaan. Ia mengaku bahwa rakyat saat ini telah sadar untuk menolak setiap penindasan kepemimpinan Ahok.
"Kami ingin pemimpin alternatif, pemimpin yang tidak sekadar cakap dalam menata pemerintahan dan birokrasi tetapi lebih dari itu. Ia juga harus bersedia untuk berpihak pada rakyat miskin, mau mendengarkan suara rakyatnya, dan bersedia bekerja sama dengan rakyat," beber Parjono saat membacakan deklarasinya, Rabu (29/6/2016).
Parjono kembali menyatakan bahwa pihaknya akan siap memberi dukungan kepada kader PDI Perjuangan itu.
SIMETRIS tidak ingin berharap lagi pada pemimpin yang telah mempertontonkan arogansi kekuasaannya, yang dengan pongahnya meminggirkan dari ruang demokrasi. "Kami tak mau Gubernur tukang gusur," kata dia.
Sementara itu, perwakilan warga Kalianyar Agus menyebut Ahok merupakan pemimpin yang arogan. Menurut dia, warga Jakarta sudah tidak mau lagi dipimpin Gubernur seperti model Ahok.
"Ahok merupakan Gubernur pertama yang ditolak warganya, di Jakbar, Jakut, dan tempat-tempat lainnya," ucap dia.
Agus menuturkan sosok Risma merupakan sosok pemimpin idaman dengan kesederhanaan, ketegasan tanpa kekerasannya mampu mengatasi perbagai permasalahan yang ada.
"Di Jakarta Ahok menggusur Kalijodo dengan kearogannya, beda dengan Bu Risma di Surabaya justru merubah Dolly menjadi kawasan produktif. Di Jakarta Ahok menggusur kampung nelayan, dan di Surabaya Bu Risma memperbaiki dan membenahi kampung Nelayan. Kami siap mensukseskan Risma menjadi DKI 1," tukasnya. [beritaislam24h.com / rnc]
Prabowo: Cuma Beri Janji, Itu Namanya Bukan Pemimpin...
00.35
Prabowo: Cuma Beri Janji, Itu Namanya Bukan Pemimpin...
Berita Islam 24H - Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyindir soal keuangan negara yang kosong. Menurut Prabowo, sosok pemimpin bukan orang yang suka menebar program-program yang baru akan dilaksanakan. Apalagi tanpa didukung keuangan negara.
"Itu bukan pemimpin, tapi pejuang akan, tapi uangnya tidak ada," kata Prabowo di Jakarta, Rabu, 29 Juni 2016.
Pernyataan Prabowo tepat sehari setelah DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang Tax Amnesty. Gerindra bersikap menolak saat pertama kali RUU Tax Amnesty digulirkan. Sebab, ada ketidakadilan terhadap wajib pajak kalau RUU ini disahkan. Namun, di akhir pembahasan, Gerindra melunak dan menyetujui dengan berbagai catatan.
Ketua Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Muzani menyebut melunaknya sikap fraksinya karena kondisi keuangan negara tidak ada. Padahal, Presiden Jokowi terus melakukan pembangunan infrastruktur. Hal inilah yang membuat Gerindra terpaksa melunak dan menyetujui RUU Tax Amnesty.
Menurut Prabowo, seharusnya seorang pemimpin adalah yang memberikan bukti dari program yang dilakukannya. Bukan berkoar-koar dengan janji akan melaksanakan program. Kalau masih program yang akan dilakukan, menurut Prabowo itu bukan ciri seorang pemimpin.
"Boleh pimpinan negara atau tokoh partai politik berdiri dan terus memberi janji akan ini akan itu, artinya itu bukan program aksi, tapi itu program akan," kata Prabowo. [beritaislam24h.com / ppc]
Rabu, 29 Juni 2016
Panglima TNI Sebut RI Disusupi Politikus Titipan Asing yang Suka Marah2
04.46
Panglima TNI Sebut RI Disusupi Politikus Titipan Asing yang Suka Marah2
Berita Islam 24H - Pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menyebut Indonesia telah disusupi oleh politikus titipan asing, memunculkan berbagai persepsi. Apalagi Gatot menyebut politikus titipan itu lebih suka marah-marah.
Pengamat politik Ahmad Yazid menilai ucapan Panglima TNI itu ditujukan untuk mengingatkan pada rakyat Indonesia khususnya Jakarta, agar tidak memilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang dikenal sebagai politikus yang suka marah-marah.
“Walaupun Panglima TNI tidak menyebut, tapi rakyat sudah tahu bahwa yang dimaksud Gatot Nurmantyo itu Ahok,” tegas Ahmad Yazid kepada intelijen (28/06).
Menurut Yazid, pernyataan Panglima TNI tersebut mengisyaratkan kalangan TNI sudah tidak setuju dengan keberadaan mantan Bupati Belitung Timur itu. “Panglima TNI punya analisa dan informasi yang mendalam, keberadaan Ahok justru memunculkan api dalam sekam yang memunculkan instabilitas negara,” papar Yazid.
Selain itu, kata Yazid, berbagai pernyataan Ahok justru memunculkan isu SARA. “Justru Ahok lah yang sengaja memunculkan SARA, untuk memunculkan simpati dan sudah dicium oleh pihak TNI,” jelas Yazid.
Saat menjadi pembicara seminar bela negara di Hotel Sheraton Makassar, Panglima TNI Jenderal Gatot mengingatkan bahwa Indonesia telah disusupi oleh politikus titipan asing.
“Masyarakat Indonesia saat ini memiliki budaya yang berbeda, mereka lebih suka marah-marah, parahnya itu semua dipelopori oleh politikus yang dikendalikan dari luar oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab,” kata Gatot. [beritaislam24h.com / ici]
Selasa, 28 Juni 2016
Gagal Verifikasi dan Terbukti Beli KTP, Ahok Bisa Dicoret Dari Ajang PilGub 2017
20.53
Gagal Verifikasi dan Terbukti Beli KTP, Ahok Bisa Dicoret Dari Ajang PilGub 2017
Berita Islam 24H - Jika terbukti melakukan praktik jual beli KTP yang melibatkan Teman Ahok, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa terancam dicoret dari ajang Pilkada DKI Jakarta 2017. Sebab, praktik tersebut adalah tidak sah menurut aturan UU.
“Paling ya Ahok didiskualifikasi karena dari hukum tidak bisa dikenakan pidana,” kata Pengamat Hukum, Margarito Kamis saat dihubungi di Jakarta, Senin, 27 Juni 2016..
Margarito juga menerangkan, alasan tidak bisa dipidananya Teman Ahok karena belum ada pasal yang mengatur soal jual beli KTP.
“Belum pernah saya temukan ada pasal yang mengatur itu,” kata dia.
Meski begitu, ia meminta agar KTP yang dikumpulkan Teman Ahok divalidasi.
“KTP yang didata Teman Ahok harus divalidasi terlebih dahulu, apakah benar si pemilik KTP itu memberikan KTP-nya untuk Ahok, jika itu tidak benar maka KTP itu tidak valid,” ujarnya.
“Dalam landasan dasar hukum pelaksanaan pilkada, Teman Ahok telah melanggar peraturan KPU tahun 2009. Sedangkan dari hukum pidana, belum ada hukum yang menjerat jual beli pengumpul satu juta KTP,” tegasnya.
Terkait dengan validasi, Aiman Witjaksono dari Kompas TV dengan didampingi seorang pendiri Teman Ahok lalu melakukan verifikasi faktual dengan sampel 2 (dua) KTP yang dikumpulkan Teman Ahok.. Mereka mendatangi rumah sesuai KTP yang dikumpulkan Teman Ahok. Hasilnya, kedua KTP tersebut ternyata bermasalah karena kedua orang yang namanya tercantum dalam daftar KTP Teman Ahok ternyata tidak berdomisili di tempat sesuai KTP yang diberikan.
Aiman Witjaksono kemudian bertanya kepada Teman Ahok.
"Mas ini kita baru cek 2 KTP loh, padahal katanya ada 1 juta KTP, dan dua-duanya tidak ada.
Teman Ahok hanya cengar cengir dan menjawab asal-asalan bahwa mereka juga tak mampu bayangkan hal tersebut. [beritaislam24h.com / ppc]
Haha! Klaim 1 Juta KTP, Baru Diverifikasi 2 KTP Aja Gagal Total, Tidak Ada Orangnya
20.22
Haha! Klaim 1 Juta KTP, Baru Diverifikasi 2 KTP Aja Gagal Total, Tidak Ada Orangnya
Berita Islam 24H - Pihak TemanAhok mengklaim berhasil kumpulkan 1 JUTA KTP dukungan untuk Ahok yang saat itu sesumbar mau maju dari jalur independen.
Sebagaimana UU Pilkada yang baru disahkan DPR beberapa waktu lalu, untuk lolos jalur independen maka dukungan KTP akan diverifikasi secara faktual oleh KPU. Setiap KTP dukungan akan dicek satu per satu ke alamatnya, dibuktikan benar tidaknya ada orangnya, kalau orangnya ada maka akan ditanya benar tidaknya orang tersebut memberi dukungan.
Nah, sebelum KPU melakukan verifkasi (kalau benar Ahok nanti maju jalur independen), Kompas TV mencoba membuktikan dengan melakukan verifikasi faktual KTP yang dikumpulkan Teman Ahok.
Aiman dari Kompas TV dengan didampingi seorang pendiri Teman Ahok lalu melakukan verifikasi faktual dengan sampel 2 (dua) KTP yang dikumpulkan Teman Ahok... Mereka mendatangi rumah sesuai KTP yang dikumpulkan Teman Ahok... Dan apa yang terjadi? Kedua duanya GAGAL TOTAL !!
Pada KTP pertama, orangnya tidak ada karena tidak tinggal di rumah itu. Disebutkan dia numpang KTP. Loh numpang KTP?
Lalu KTP kedua yang didatangi rumahnya... orangnya juga tidak ada.
Kata Aiman kepada Teman Ahok: "Mas ini kita baru cek 2 KTP loh, padahal katanya ada 1 juta KTP, dan dua-duanya tidak ada. Lah nanti kalau KPU yang ngecek dan kondisinya seperti ini, bagaimana?"
Teman Ahok cuma cengar cengir, "Kita juga belum bisa membayangkan".
Pantesan kalau Ahok mulai ngomong tak masalah kalau nanti maju lewat Parpol setelah dapat dukungan Golkar, padahal dulu ngotot maju independen. Lah, independen gimana kalau 2 KTP yang diverifikasi aja ternyata bodong.
Simak video Aiman Kompas TV:
Senin, 27 Juni 2016
Ahok Ragukan Relawan Kumpulkan 1 Juta KTP secara Sah
21.24
Ahok Ragukan Relawan Kumpulkan 1 Juta KTP secara Sah
Berita Islam 24H - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku dirinya masih ragu dengan kebenaran apakah "Teman Ahok" benar-benar sudah mengumpulkan 1 juta data KTP untuk mendukungnya maju secara independen pada Pilkada DKI 2017.
Oleh karena itu dia, meminta Teman Ahok untuk melakukan rekapitulasi dan verifikasi terhadap 1 juta data KTP tersebut. "Saya juga enggak tahu 1 juta itu benar enggak. Nah nanti kalau sudah membuktikan itu, minimal anak-anak itu kan pingin saya tetap maju," terangnya di Balai Kota Jakarta, Senin (27/6/2016).
Dengan melakukan rekapitulasi dan verifikasi seperti itu, Ahok lebih tenang dalam mengikuti Pilkada DKI 2017 lewat jalur independen. Rekapitulasi yang dilakukan Teman Ahok juga merupakan cara yang adil untuk membuktikan data KTP yang mereka kumpulkan.
"Kalau saya bilang kamu enggak sampai sejuta, terus saya ikut parpol, mereka tersinggung juga dong. Padahal sekarang saya juga enggak tahu kan benar 1 juta atau tidak," ungkap dia. [beritaislam24h.com / rnc]
Minggu, 26 Juni 2016
Jokowi Bilang Tidak Dukung Ahok Dalam Pilgub DKI 2017, Artinya Sebenarnya Adalah,,
20.44
Jokowi Bilang Tidak Dukung Ahok Dalam Pilgub DKI 2017, Artinya Sebenarnya Adalah,,
Berita Islam 24H - Presiden Joko Widodo tidak memberikan pernyataan mendukung Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok dalam Pilkada di DKI Jakarta tahun 2017, saat bertemu dan berdialog dengan enam relawan di Istana Negara.
Dalam pertemuan dengan enam Relawan di Istana Jumat (24/6), Presiden Joko Widodo (Jokowi) sama sekali tidak bicara tentang dukungan terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta, kata Mohammad Yamin, Ketua Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi, di Jakarta, Sabtu (25/6/2016).
“Presiden kan bicara panjang lebar tentang angkutan Lebaran. Relawan di semua daerah diminta memantau dan memberi masukan melalui nomor khusus,” tambah Mohammad Yamin, salah satu dari enam relawan yang bertemu dan berdialog dengan Presiden Jokowi.
Yamin merasa perlu memberikan klarifikasi karena Koordinator Jasmev, Kartika Djoemadi, mengatakan, dalam pertemuan antara para koordinator Relawan dengan Presiden, Jokowi secara eksplisit memberi dukungan kepada Ahok.
Yamin hadir bersama Sihol Manullang (Barisan Relawan Jokowi Presiden), Reinhart Parapat (Kebangkitan Indonesia Baru), Immanuel Ebenezer (Jokowi Mania), Obby dan Junaidi (Relawan Penggerak Jakarta Baru).
“Mau secara eksplisit atau mau implisit, enggak mungkinlah Jokowi menyebut dukungan. Beliau kan presiden, negarawan, jadi bukan saatnya lagi dukung mendukung. Tugas kita semua menjaga presiden sebagai negarawan,” katanya.
Menurut Yamin, Kartika mungkin saja bertemu Presiden Jokowi pada hari Jumat 24 Juni 2016. Tetapi bukan dalam rombongan yang enam orang. Jadi kami heran juga seakan-akan dalam pertemuan dengan 6 Relawan, Jokowi menyebut dukungan kepada Ahok.
Setelah bicara tentang pemantauan angkutan Lebaran, Relawan bicara tentang penegakan hukum agar investor asing jangan menjadi takut. Juga bertanya soal Pilkada DKI Jakarta. Mengenai Jakarta, Jokowi menjawab ringkas, “Jangan gaduh saja,” tambah Sihol manulang ketua umum Bara JP.(ts/pm)
***
Menterjemahkan “bahasa Jokowi” itu kita harus menggunakan kunci Antonim. Ingat! Dulu Jokowi bilang ekonomi meroket, artinya Perekonomian akan nyungsep. Jokowi bilang tidak ngutang, artinya Ngutang gede-gedean. Jokowi bilang swasembada, artinya Import. Jokowi bilang tidak dukung Ahok maka artinya adalah…… (isi sendiri yaa) [beritaislam24h.com / emc]
Sabtu, 25 Juni 2016
Sandiaga Uno Dapat Ancaman dari Pengusaha Kelas Kakap
22.14
Sandiaga Uno Dapat Ancaman dari Pengusaha Kelas Kakap
Berita Islam 24H - Kandidat Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mendapat ancaman hebat dari pengusaha kelas kakap. Hal itu dipicu lantaran kerasnya Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini menyuarakan kebangkitan ekonomi rakyat dari pedagang kaki lima (PKL).
"Saya mendapat ancaman setelah melakukan kampanye selama empat bulan terakhir," ujar Sandi sapaan akrabnya saat menyempatkan diri berbuka puasa bersama PKL di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu (25/06/2016).
Dia mengatakan, sejatinya ancaman tersebut datang dari koleganya sesama pengusaha. Hal tersebut diakui Sandi dilontarkan langsung lewat pesan singkat.
"Dia bilang kalau kamu teruskan kampanye kamu menjadi Gubernur kamu akan hancur. Hancur semua investasi yang telah lama kamu bangun," katanya menirukan bunyi ancaman pesan singkat tersebut.
Kendati demikian, pria yang masih menjabat sebagai orang nomor satu di PT Saratoga Investama itu mengaku tak gentar dengan ancaman tersebut. Dia bertekad akan tetap memperjuangkan kesejahteraan PKL dalam kampanyenya ke depan sampai jelang Pilkada DKI 2017.
"Sampai sekarang setelah saya balas SMS untuk menanyakan apakah kamu mengancam? Sampai saat ini juga dia belum menjawab SMS saya," terang Sandi.
Ancaman tersebut dipastikan dia berangkat dari kekhawatiran perusahaan besar di bidang retail modern. Sebab bagaimanapun juga koleganya tersebut takut dengan kekuatan pegiat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Karena kalangan pengusaha tersebutlah yang dapat menggerakkan perekonomian bangsa.
"Ingat dahulu pada krisis ekonomi 1997/1998, UMKM yang menyelamatkan perekonomian bangsa. Ini bukti bahwa apa yang saya perjuangkan untuk memperbaiki perekonomian rakyat kecil membuat kalangan pengusaha atas terancam," ungkap Sandi. [beritaislam24h.com / rnc]
Lulung: Iris Kuping Saya Jika Ahok Maju di Jalur Independen
21.49
Lulung: Iris Kuping Saya Jika Ahok Maju di Jalur Independen
Berita Islam 24H - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Haji Lulung, mengaku tak percaya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berani memilih jalur independen untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Menurut dia, Ahok akan tetap memilih maju melalui partai politik.
"Saya mau iris ini kuping saya kalau dia (Ahok) mau maju independen. Bohong, retorika propaganda. Gak mungkin dia berani," kata Lulung usai mengisi diskusi di R2R Cafe di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu, 23 Juni 2016.
Menurut Lulung, jika Ahok maju melalui jalur indepeden, tantangan yang paling sulit adalah verifikasi KTP dukungan. Apalagi, adanya pengakuan dari lima eks Teman Ahok yang mengaku curang saat mengumpulkan KTP.
"Saya pikir sah-sah saja propaganda itu dari segi politik. tapi ini kan ada pembohongan terhadap publik," kata dia politikus dari Partai Persatuan Pembangunan tersebut.
Ini bukan kali pertama Lulung menyatakan akan mengiris kupingnya. Sebelumnya, pada April lalu, ia menantang akan ptong kuping jika Ahok menuntut Badan Pemeriksa Keuangan ke pengadilan terkait laporan BPK tentang pengadaan tanah Rumah Sakit Sumber Waras. [beritaislam24h.com / tc]
Salah Satu Relawan Jokowi ini Bantah Dukung Ahok di Pilgub DKI, Ini Penjelasannya
20.31
Salah Satu Relawan Jokowi ini Bantah Dukung Ahok di Pilgub DKI, Ini Penjelasannya
Berita Islam 24H - Presiden Joko Widodo tidak memberikan pernyataan mendukung Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok dalam Pilkada di DKI Jakarta tahun 2017, saat bertemu dan berdialog dengan enam relawan di Istana Negara.
Dalam pertemuan dengan enam Relawan di Istana Jumat (24/6), Presiden Joko Widodo (Jokowi) sama sekali tidak bicara tentang dukungan terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta, kata Mohammad Yamin, Ketua Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi, di Jakarta, Sabtu (25/6).
"Presiden kan bicara panjang lebar tentang angkutan Lebaran. Relawan di semua daerah diminta memantapkan dan memberi masukan melalui nomor khusus," tambah Mohammad Yamin, salah satu dari enam relawan yang bertemu dan berdialog dengan Presiden Jokowi.
Yamin merasa perlu memberikan klarifikasi karena Koordinator Jasmev, Kartika Djoemadi, mengatakan, dalam pertemuan antara para koordinator Relawan dengan Presiden, Jokowi secara eksplisit memberi dukungan kepada Ahok.
Yamin hadir bersama Sihol Manullang (Barisan Relawan Jokowi Presiden), Reinhart Parapat (Kebangkitan Indonesia Baru), Immanuel Ebenezer (Jokowi Mania), Obby dan Junaidi (Relawan Penggerak Jakarta Baru).
"Mau secara eksplisit atau mau implisit, enggak mungkinlah Jokowi menyebut dukungan. Beliau kan presiden, negarawan, jadi bukan saatnya lagi dukung mendukung. Tugas kita semua menjaga presiden sebagai negarawan," katanya.
Menurut Yamin, Kartika mungkin saja bertemu Presiden Jokowi pada hari Jumat 24 Juni 2016. Tetapi bukan dalam rombongan yang enam orang. Jadi kami heran juga seakan-akan dalam pertemuan dengan 6 Relawan, Jokowi menyebut dukungan kepada Ahok.
Setelah bicara tentang pemantauan angkutan Lebaran, Relawan bicara tentang penegakan hukum agar investor asing jangan menjadi takut. Juga bertanya soal Pilkada DKI Jakarta. Mengenai Jakarta, Jokowi menjawab ringkas, "Jangan gaduh saja," tambah Sihol manulang ketua umum Bara JP. [beritaislam24h.com / rci]
Jokowi Minta Relawannya "Jasmev" Dukung Ahok
19.55
Jokowi Minta Relawannya "Jasmev" Dukung Ahok
Berita Islam 24H - Presiden Joko Widodo meminta relawannya untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilgub DKI 2017. Hal itu dinyatakan langsung oleh Ketua Jokowi-Ahok Media Sosial Volunteer (Jasmev), Kartika Jumadi.
Jasmev merupakan relawan Jokowi-Ahok saat Pilgub DKI 2012 dan relawan Jokowi pada pilpres 2014. Diakui Kartika, relawan Jokowi Ahok sempat terpecah soal dukungan. Karenanya, siang tadi Presiden Jokowi mengumpulkan para relawan untuk mendukung Ahok.
"Pak Jokowi enggak mungkin memberikan instruksi secara eksplisit. Tapi dari perbincangan kami, secara implisit terlihat bahwa pilihan kami sudah benar mendukung Ahok jadi gubernur," kata Kartika di Setia Budi Building, Jakarta Selatan, Jumat (24/6/2016).
Kartika menerangkan, dukungan yang diberikan pihaknya merupakan bentuk komitmen yang selama ini sudah diemban Jasmev. Semula dia merasa tugas sebagai relawan akan berakhir setelah pemilihan gubernur DKI 2012 dan Pilpres 2014 usai.
"Ternyata 2017 pak Ahok maju lagi, jadi ini konsistensi kami," terang dia.
Pada pilgub DKI 2012 dan Pilpres 2014, lanjut Kartika, Jasmev bertugas untuk melakukan kampanye di sosial media untuk menghadapi fitnah dari lawan politik Jokowi-Ahok. Hal serupa juga bakal dilakukan Jasmev jelang Pilgub DKI 2017. Bahkan, Kartika mengaku sudah menyiapkan ribuan konten factory soal Ahok yang siap disebar luaskan di media.
"Kontennya seperti apakah Pak Ahok terlibat kasus Sumber Waras? Kita bisa menjelaskan kepada publik melalui content factory yang sudah kita buat," ujar dia.
Kartika juga meminta para relawan agar tidak menyoal jalur yang dipilih Ahok untuk maju dalam Pilgub DKI. Baginya, Ahok harus menang dan kembali duduk di kursi DKI-1.
"Mau lewat parpol atau jalur perseorangan yang penting Ahok kita dorong untuk maju," tandasnya. [beritaislam24h.com / mtc]
Berbeda Dengan Ahok yang Diusir Warga, Yusril Dapat Sambutan Luar Biasa Dari Warga DKI
00.14
Berbeda Dengan Ahok yang Diusir Warga, Yusril Dapat Sambutan Luar Biasa Dari Warga DKI
Berita Islam 24H - Ramai diberitakan Ahok berkali-kali ditolak oleh warga DKI, khususnya warga Jakarta Utara yang sudah muak pada tingkah Ahok. Saking kesalnya, warga melempari mobil Ahok dengan batu dan menghadang Ahok sampai-sampai Ahok perlu kabur menghindar. Tak hanya itu, warga belakang Pasar Ikan, konon sudah membuatkan "kuburan" untuk Ahok.
Amarah rakyat yang terkesan meledak ini, diyakini banyak pihak sebagai akumulasi kekecewaan dan amarah warga pada sikap Ahok yang kasar dan tak memihak warga. Beberapa bentrok saat peggusuran menjadi salah satu indikator renggangnya hubungan Ahok dan warga DKI. Pembangunan rusun belum sempurna, tetapi warga sudah digusur, menjadi sebuah lapisan baru kemarahan warga DKI. Belum lagi ucapan dan tingkah kasar Ahok lain yang bisa disimak melalui media televisi dan media cetak. Singkatnya, Ahok menjadi musuh bersama warga.
Berbanding terbalik dengan Ahok, yang disambut dengan kemarahan warga, kehadiran Yusril Ihza Mahendra ke daerah Tambora Jumat 24 Juni 2016 disambut suka cita oleh warga. Mereka sangat antusias menyalami Yusril dan memenuhi mushalla Hidayatul Falikhin untuk berdialog bersama Yusril. Dengan antusias, Yusril mendengarkan keluhan warga kampung Tambora.
Tak hanya berdialog, Yusril pun menyempatkan diri berbuka bersama warga dan menyalami warga Tionghoa asal Singkawang yang tinggal di Kampung Tambora.
Sehari sebelumnya, Kami 23 Juni 2016, Yusril mengunjungi warga Pademangan Timur. Dengan menaiki motor, Yusril menembus gang kecil dan sempit di Pademangan untuk berdialog dan berbuka puasa bersama di masjid Jami; Sabilillah.
Yusril yang sederhana dan kerap muncul membela warga yang tergusur semakin membuat warga bersimpati padanya. Meskipun pernah menjadi pejabat negara setingkat menteri pada beberapa periode, hal itu tidak membuat Yusril besar kepala. Ia tetap rendah hati dan menjaga kedekatannya dengan warga DKI.
Boni, seorang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Pademangan Timur mengatakan, meskipun ia keturunan Tionghoa dan beragama nasrani, ia tak bersimpati pada Ahok.
"Saya Katolik dan Cina. Tapi gak simpati lihat kelakuan Ahok. Muak. Kelakuan Ahok memalukan. Saya justru gak nyanyka Pak Yusril rendah hati banget. Naik motor sambil dadah-dahah," ujar Boni sembari melambai-lambaikan tangan menirukan Yusril.
Senada dengan Boni, Candy warga Tionghoa yang tinggal di Tambora juga mengatakan terkesan dengan Yusril.
"Pak Yusril sopan.. Beda dengan Pak Ahok," ujar Candy ketika ditemui Kamis malam, 23 Juni 2016.
Baik Boni maupun Candy berharap Yusril mampu bertarung dan mengalahkan Ahok di PilGub 2017 mendatang.
"Semoga Pak Yusril jadi Gubernur gantiin Gubernur warisan." harap Boni. [beritaislam24h.com / ppc]
Jumat, 24 Juni 2016
Sandiaga Uno Sambut Positif Dukungan Etnis Tionghoa
21.49
Sandiaga Uno Sambut Positif Dukungan Etnis Tionghoa
Berita Islam 24H - Bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, bertemu dengan Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (Petir), Jumat malam, 24 Juni 2016. Sandiaga menyambut positif dukungan dari Petir. Sandiaga merasa memiliki kesamaan dengan mereka.
"Saya melihat ada kesamaan titik, ingin dunia usaha lebih kondusif ke depan. Bagaimana penciptaan lapangan pekerjaan terjadi dan juga kekhawatiran kepada gejolak ekonomi yang sekarang sudah mulai terasa," kata Sandiaga, ketika ditemui di restoran Eka Ria.
Sandiaga berharap, dari pertemuan dengan Petir ini bisa tercipta komunikasi yang lebih hangat dan merapat, termasuk dengan etnis Tionghoa yang ada di Jakarta.
"Dengan keinginan yang dibawa, agar Jakarta dikelola lebih baik ke depan," ujar Sandiaga.
Menurut Sandiaga, masih ada banyak tuntutan dari warga DKI yang belum terpenuhi, khususnya terkait usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Untuk itu, politikus Partai Gerindra itu mensolusikan akses permodalan yang lebih mudah untuk para pelaku dunia usaha.
"Kita akan ada akses permodalan yang lebih kontinyu, ada pelatihan dan dunia usaha lebih kondusif," kata Sandiaga. [beritaislam24h.com / vci]
Warga Deklarasikan Risma Jadi Lawan Ahok
08.19
Warga Deklarasikan Risma Jadi Lawan Ahok
Berita Islam 24H - Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, muncul nama-nama kuat yang digadang-gadang akan menjadi calon gubernur. Deklarasi pun telah dilakukan sejumlah tim sukses.
Salah satu yang muncul yakni deklarasi terhadap Tri Rismaharini alias Risma. Perempuan yang saat ini masih menjabat Wali Kota Surabaya itu dideklarasi melawan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok oleh kelompok yang menyebut dirinya dengan nama Barisan Risma (Baris).
"Kami tahu rekam jejak Bu Risma memimpin Kota Surabaya. Dia mampu mengedepankan rasa kemanusiaan, musyawarah dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada di Kota Surabaya itu," kata Deni Riyanto, Koordinator Baris Jakarta Barat di Kebon Jeruk, Jumat, 24 Juni 2016.
Karena alasan itulah, mereka menilai Risma layak memimpin Ibu Kota. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu dinilai tidak akan arogan saat memimpin Jakarta.
"Kita tidak mau mempunyai pemimpin yang arogan, yang tidak mau bermusyawarah dengan rakyatnya ketika menyelesaikan masalah di kota Jakarta," ujar Deni. Setelah deklarasi ini, mereka mengaku akan menjalin komunikasi secara intens dengan Risma. Baris mengaku optimis Risma akan mendengar aspirasi mereka. "Karena inilah suara rakyat kecil, inilah suara masyarakat DKI yang mendambakan pemimpin yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan tidak menggunakan kekerasan, berdialog, dan bermusyawarah dan mengikuti partisipasi rakyatnya dengan rasa kemanusiaan," kata Deny. [beritaislam24h.com / vnc]
Ini Dia “Kartu AS” Pendukung Ahok untuk Jatuhkan Jokowi dan PDIP
01.59
Ini Dia “Kartu AS” Pendukung Ahok untuk Jatuhkan Jokowi dan PDIP
Berita Islam 24H - Pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) baik yang tergabung TemanAhok maupun Ahokers telah berupaya menjatuhkan Joko Widodo dan PDIP.
Pendapat itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (23/06). “Beberapa pendukung Ahok mulai menyerang PDIP dan Megawati setelah kasus TemanAhok terbongkar. Pendukung Ahok mulai menyerang PDIP dengan tudingan partai berlambang Banteng Moncong Putih ini di balik rekayasa mantan TemanAhok,” kata Muslim Arbi.
Menurut Muslim, serangan pendukung Ahok juga dilakukan terhadap Jokowi, setelah orang nomor satu di DKI itu menyebut mantan Wali Kota Solo itu bisa menjadi presiden karena adanya dana dari pengembang.
“Tentu saja, buzzer-buzzer Ahok ini akan memainkan opini bahwa Jokowi bisa terseret kasus reklamasi bahkan RS Sumber Waras. Pernyataan Ahok ini langsung diserang balik politikus PDIP,” papar Muslim.
Muslim mengatakan, sikap yang ditujukan pendukung Ahok yang menyerang PDIP maupun Jokowi ini karena merasa punya “kartu AS”. “Mungkin kartu AS yang dikeluarkan adalah kasus pengadaan bus TransJakarta, reklamasi bahkan RS Sumber Waras,” pungkas Muslim. [beritaislam24h.com / ici]
Kamis, 23 Juni 2016
PBNU Resmi Restui Sandiaga Uno, Ketua PBNU: "Muslim WAJIB Dukung Muslim"
02.39
PBNU Resmi Restui Sandiaga Uno, Ketua PBNU: "Muslim WAJIB Dukung Muslim"
Berita Islam 24H - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menyatakan merestui pencalonan Sandiaga Uno sebagai Gubernur DKI Jakarta periode selanjutnya. Hal tersebut disampaikan langsung Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj saat menerima kedatangan Sandi di kantornya, Rabu (22/6/2016).
“Yang jelas kami bukan mendukung, karena kami tidak bisa ikut di ranah politik praktis. Tapi kalau merestui jelas, karena saya kenal dengan keluarga Sandi,” ujar Said di sela-sela pertemuan tersebut.
Secara harfiah, lanjut Said, ada baiknya warga Jakarta muslim yang mencapai 60 persen dari jumlah keseluruhan memilih pemimpin muslim. Namun dengan catatan, pemimpin tersebut harus lah adil, jujur, bersih, santun, dan memiliki kapabilitas baik untuk mejalankan roda pemerintahan.
“Kalau ada Muslim yang adil, jujur, bersih, orang Muslim wajib dukung pemimpin itu,” tegas Said.
Menurut Said, hingga kini, memang Jakarta tidak kekurangan pemimpin muslim. Namun, tetap harus memilih pemimpin muslim yang adil.
“Untuk Jakarta saya percaya nggak kekurangan pemimpin muslim yang benar, adil, dan amanah kok. Salah satunya ya Pak Sandi ini. Kami berikan restu,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu juga, Said mengklarifikasi pernyataannya yang pernah mengatakan mendukung calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
“Jadi, nggak ada saya dukung Ahok. Nggak benar itu. Itu ngada-ngada aja,” tegasnya.
Sebelumnya, Said mengatakan bahwa dirinya tak bisa menolak kehadiran sosok Ahok yang dinilainya cukup baik berkinerja di Pemprov DKI.
“Sepanjang beliau adil dan berpihak kepada rakyat, itulah gubernur kita semua,” ungkap Said ketika ditemui di Masjid An-Nadhlah Rahmah Nusantara, Ciracas, Jakarta Timur.
Menurut beliau, patokan dalam memilih pemimpin yang baik adalah keadilan, kejujuran, dan amanah.
“Bukan agama,” ungkapnya beberapa waktu lalu. Namun semua itu dibantah dan kini PBNU menyerukan warga Jakarta agar memilih seorang Muslim yang amanah, cerdas, dan berpihak pada rakyat, dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 nanti. [beritaislam24h.com / emc]
Selasa, 18 November 2014
Pujian #JokowiHebat Juga Muncul Di Medsos
04.54
JAKARTA - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tak hanya menjadi perdebatan di dunia nyata. Di media sosial (medsos) seperti Twitter, juga terjadi perang kicauan. Usai disindir dengan hastag #SalamGigitJari, BBM Naik dan sejenisnya, di 10 besar trending topic Indonesia muncul topik yang terkesan memberikan dukungan atas kebijakan kenaikan BBM, dengan hastag #JokowiHebat.
Hingga menjelang malam (Selasa, 18/11), #JokowiHebat membuntuti #SalamGigitJari. Jika plesetan dari Salam Dua Jari berada di posisi kedua, maka #JokowiHebat ada di peringkat ketiga.
Posisi pertama ditempati topik #BDMELODI_77 Di #JokowiHebat, sejumlah kicauan mensupport langkah Jokowi-JK. "Yang pd komplain, mencaci, menjelek2kan dan sok plg pinter.. blm tentu bisa mimpin negara.. #jokowihebat," tulis akun @y03lia.
"Jokowi berani ambil keputusan demi kemajuan Bangsa & Negara dimasa yg akan datang, @jokowi_do2 tdk takut mnjadi tdk populer," kicau @DrewYakobus. "Jadi pemimpin harus berani ambil resiko, keputusannya lebih banyak manfaat atau kerugian. Rakyat harus tetap nomor 1 #JokowiHebat," tulis @theopils.
Sumber: JPNN
Baca juga >> Pihak Istana Menanggapi Kemunculan #ShameonYouJokowi
Sumber: JPNN
Baca juga >> Pihak Istana Menanggapi Kemunculan #ShameonYouJokowi
Perincian Perubahan Tarif Transportasi oleh Kementerian Perhubungan
04.45
JAKARTA - Pasca kenaikan harga BBM per 18 November, Kementerian Perhubungan mengeluarkan kebijakan pembatasan kenaikan tarif angkutan. Hal ini, menurut Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dilakukan demi melindungi daya beli masyarakat. "Nanti kalau dibiarkan naik terlalu tinggi, daya beli masyarakat jatuh. Yang rugi juga operator juga," ujar Jonan, Selasa (18/11).
Berikut adalah rincian kebijakan terkait perubahan tarif angkutan oleh Kementerian Perhubungan:
- Kenaikan tarif angkutan umum ekonomi maksimum 10 Persen dari tarif yang berlaku saat ini
- Untuk tarif angkutan umum non ekonomi dan angkutan pariwisata ditetapkan oleh operator melalui mekanisme pasar
- Tarif angkutan jalan perintis dan angkutan penyebarangan perintis tidak mengalami kenaikan tarif.
- Untuk tarif angkutan penumpang laut kelas ekonomi tidak mengalami kenaikan tarif (PT. Pelni dan Perintis)
- Untuk Kereta Api Ekonomi jarak jauh sebesar (rata rata) 13 ribu rupiah
- KA ekonomi jarak sedang sebesar Rp 9 ribu
- Tarif KA ekonomi jarak dekat atau lokal sebesar rata rata Rp 3 ribu
- KRD naik sebesar Rp 2 ribu 9. KRL tidak mengalami kenaikan.
Sumber: Republika
Besok Ahok Dilantik Jadi Gubernur Di Istana
04.02
JAKARTA -- Pelantikan Gubernur DKI Jakarta akan dilaksanakan di Istana Negara, Rabu (19/11). Hal ini mengubah rencana pelantikan yang semula akan dilaksanakan di Kantor Gedung DPRD DKI Jakarta. "Digeser ke istana," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di kantornya, Selasa (18/11).
Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok akan dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta sekitar pukul 14.00. Sebelumnya, mantan Bupati Belitung Timur itu dikabarkan akan dilantik hari ini Selasa (18/11). Namun, kata Rikwanto, panitia pelantikan ini telah mengubahnya besok Rabu (19/11). Walau demikian, lanjut Rikwanto, sistem pengamanan pelantikan Gubernur DKI Jakarta tetap sama. "Pola Pam (pengamanan) sama seperti pengamanan yang direncanakan di DPRD (DKI)," terang Rikwanto.
Langganan:
Postingan (Atom)



















